Banten

Rupiah Hari Ini Rp17.864 per Dolar AS, Masih Tertekan! Ini Sentimen yang Bisa Bikin Kurs Makin Bergejolak

Abdurahman | 7 Oktober 2026, 19:22 WIB
Rupiah Hari Ini Rp17.864 per Dolar AS, Masih Tertekan! Ini Sentimen yang Bisa Bikin Kurs Makin Bergejolak
KURS-Kurs Rupiah ke Dollar hari ini yang menunjukkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (Tangkapan layar Google.com)

AKURAT BANTEN— Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Rabu, 7 Oktober 2026, masih bergerak di level tinggi. Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.800-an per dolar AS, dengan data pasar menunjukkan USD/IDR sekitar Rp17.864 per dolar AS pada pagi hari.

Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Meski demikian, posisi kurs dapat berubah sepanjang perdagangan karena pasar valuta asing bergerak dinamis mengikuti perkembangan sentimen global maupun domestik.

Sebagai pembanding, JISDOR Bank Indonesia pada Selasa, 6 Oktober 2026 berada di level Rp17.910 per dolar AS.

Perbedaan antara kurs pasar dan JISDOR merupakan hal yang wajar. Kurs pasar valuta asing bergerak secara real-time mengikuti transaksi dan permintaan-penawaran, sementara JISDOR merupakan kurs referensi yang ditetapkan Bank Indonesia berdasarkan transaksi valuta asing di pasar domestik.

Rupiah masih berada dalam tekanan, tetapi arah pergerakannya hari ini tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi Indonesia. Sentimen The Fed, dolar AS, harga minyak, hingga geopolitik global menjadi faktor penting yang perlu dicermati.

Baca Juga: Akhirnya Terjawab! MK Putuskan Gugatan Ijazah Gibran, Begini Nasib Gibran sebagai Wapres

The Fed Jadi Perhatian Utama Pasar

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar hari ini adalah arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed.

Investor tengah menunggu risalah pertemuan terakhir bank sentral AS untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Kebijakan The Fed sangat penting bagi pergerakan rupiah karena perubahan ekspektasi suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal global.

Jika pasar melihat adanya peluang suku bunga AS tetap tinggi atau bahkan meningkat, aset berdenominasi dolar AS berpotensi menjadi semakin menarik bagi investor.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar dan pada saat yang sama memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sebaliknya, apabila sinyal kebijakan The Fed dinilai lebih longgar, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.

Baca Juga: Kurs Rupiah ke Dollar Hari Ini 7 Oktober 2026, 'Nyaris Rp17.900, Ada Apa?'

Harga Minyak Ikut Jadi Sorotan

Bukan hanya The Fed yang menjadi perhatian.

Harga minyak mentah dunia juga menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan dalam pergerakan rupiah.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Jika kebutuhan pembayaran impor dalam dolar meningkat, permintaan terhadap mata uang AS juga dapat ikut terdorong.

Situasi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah, terutama ketika dolar AS sendiri masih berada pada level yang relatif kuat.

Karena itu, kombinasi antara dolar yang kuat dan harga minyak yang meningkat menjadi salah satu skenario yang kurang menguntungkan bagi rupiah.

Baca Juga: Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Gugur di MK, Kuasa Hukum Rayakan Putusan dengan Sujud Syukur

Dolar AS Masih Kuat, Ruang Rupiah Terbatas

Indeks dolar AS yang masih berada pada level tinggi juga membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.

Bagi pasar keuangan, kekuatan dolar AS bukan sekadar persoalan nilai tukar. Pergerakannya juga berkaitan erat dengan keputusan investor dalam menempatkan dana di berbagai negara.

Ketika aset AS dinilai lebih menarik, sebagian investor dapat mengalihkan dana menuju aset yang berbasis dolar.

Arus dana tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi nilai tukar mata uang negara lain, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Sesko Cedera Lagi, Manchester United Bisa Panik! 3 Striker Ini Berpotensi Jadi Solusi Januari 2027

Geopolitik Global Bisa Bikin Pasar Kembali Bergejolak

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah perkembangan geopolitik global.

Ketidakpastian geopolitik biasanya membuat investor lebih berhati-hati. Dalam kondisi tertentu, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, salah satunya dolar AS.

Jika permintaan terhadap dolar meningkat akibat sentimen tersebut, rupiah kembali berpotensi mendapatkan tekanan.

Artinya, pergerakan rupiah hari ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global yang berkembang sangat cepat.

Baca Juga: Dari Bangku Cadangan Jadi Pahlawan! Michael Olise Ungkap Instruksi Zidane yang Bikin Belgia Hancur

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Bagi masyarakat Indonesia, pergerakan rupiah terhadap dolar AS bukan sekadar angka di layar perdagangan.

Ketika rupiah melemah, kebutuhan dolar menjadi lebih mahal apabila dikonversi dari rupiah.

Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar, seperti perjalanan ke luar negeri, pembayaran barang impor, biaya pendidikan tertentu di luar negeri, maupun transaksi internasional lainnya.

Barang-barang yang memiliki komponen impor juga berpotensi menghadapi tekanan biaya apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.

Namun, dampaknya tidak selalu negatif bagi seluruh pelaku ekonomi.

Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar dapat menerima nilai rupiah yang lebih besar ketika pendapatan tersebut dikonversikan ke mata uang domestik.

Meski demikian, keuntungan tersebut tetap bergantung pada struktur biaya masing-masing perusahaan. Eksportir yang juga membutuhkan bahan baku impor tetap dapat menghadapi kenaikan biaya ketika rupiah melemah.

Baca Juga: Zidane Bikin Belgia Hancur dalam 13 Menit! Timnas Prancis Comeback 4-1, Sang Pelatih Bilang Begini

Rupiah Hari Ini Belum Bisa Dilihat dari Satu Angka

Dengan posisi rupiah di sekitar Rp17.864 per dolar AS pada pagi hari, pasar masih akan mencermati bagaimana pergerakan nilai tukar sepanjang perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026.

Angka tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan arah rupiah karena pasar valuta asing bergerak secara dinamis.

Sentimen The Fed, kekuatan indeks dolar AS, harga minyak mentah, perkembangan geopolitik, arus modal, serta kondisi pasar keuangan domestik akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan arah pergerakan rupiah berikutnya.

Dengan demikian, kurs rupiah hari ini masih berada dalam situasi yang penuh perhatian. Apakah rupiah mampu mengurangi tekanan terhadap dolar AS atau justru kembali melemah, jawabannya akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dan respons pelaku pasar sepanjang perdagangan.

Bagi masyarakat, satu hal yang perlu dipahami: angka Rp17.800-an per dolar AS bukan sekadar angka kurs, tetapi mencerminkan bagaimana tekanan global dapat ikut memengaruhi kehidupan ekonomi sehari-hari di Indonesia.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman